curhat

khutbah idul adha


RENUNGAN IDUL ADHA
Oleh :











Idris Mahmudi, Amd.Kep.S.Pd.I.*
Email : idris_mahmudi@yahoo.co.id
Blog : www.tata-h5idris.blogspot.com
HP : 081336385486

Idun secara etimologi berarti hari raya, bisa juga diartikan kembali. Adha berarti menyembelih, Idul Adha = hari raya penyembelihan. Hal ini maklum, karena dihari itu umat muslim seluruh dunia disunnahkan (dianjurkan) untuk melakukan penyembelihan hewan bagi yang mampu dan dagingnya dibagikan pada mereka yang belum mampu sebagai uapaya ibadah dan pendekatan pada Tuhan. Dengan nada sinis orientalis melontarkan istilah ”sadistic killing” pada umat muslim terhadap ibadah kurban ini. Sungguh ucapan yang menusuk hati dan statemen yang keluar tanpa toleransi. Barat yang orientalis dan cenderung materialis begitu cepat menyimpulkan yang fisis lalu mengabaikan yang metafisis. Wajar saja kemudian jika budaya nudis berkembang di komunitas barat, karena iman mereka sudah terkikis. Apa yang mereka katakan sebagai ”sadistic killing” sebenarnya tidaklah demikian kiranya. Penyembelihan itu kita sebut sebagai kurban yang berasal dari kata qorroba – qurbaanan yang berarti mendekatkan. Mendekatkan apa ? Mendekatkan diri kepada Tuhan.
Selain disebut Idul Adha, dan Idul Qurban, hari ini juga disebut dengan Idul Haji karena pada bulan ini umat muslim seluruh dunia diwajibkan menunaikan ibadah haji bagi yang telah mampu. Sangat banyak hikmah yang bisa diambil dari Idul Adha ini, namun disini penulis hanya menyampaikan 3 hikmah saja dari makna Idul Adha sebagai renungan kita bersama. Pertama Idul Adha menyiratkan pesan kemerdekaan (freedom). Kemerdekaan itu dicerminkan dengan anjuran penyembelihan hewan. Secara fisik hal itu seakan menyakiti hewan, namun lebih dalam hal itu adalah semangat untuk berbagi pada sesama, merasakan sesama dan hidupnya sense of social. Bahkan penyembelihan itu merupakan simbol kita menyembelih sifat-sifat kebinatangan kita. Manusia adalah makhluk termulia jika dibanding dengan makhluk lainnya. Ia lebih mulia dari Malaikat apalagi binatang, namun jangan lupa bahwa manusia juga berpotensi menjadi sifat malaikat dan juga bisa menjadi sifat binatang bahkan lebih rendah lagi. Jika ketaqwaan manusia subur, malaikatpun memujinya bahkan sujud (menghormat) padanya. Jika nafsunya yang dominan, maka maksiat didewakan sehingga ia sama dengan sifat binatang bahkan Qur’an menyatakan bisa lebih rendah dari binatang.
Manusia berbeda dengan binatang, namun sifat kemanusiaan bisa luntur jika meniru sifat binatang. Banyak sifat yang membedakan manusia dengan binatang. Diatara yang membedakan manusia dengan binatang adalah sifat rakus. Rakus adalah stigma untuk binatang. Namun terkadang kita merenung sebenarnya siapa yang rakus, manusia atau binatang ? Dalam pelajaran biologi kita dikenalkan dengan istilah herbivora (hewan pemakan rumput misal sapi). Yang menarik sapi hanya makan rumput/dedaunan saja, ia tidak mau mie ataupun spageti, Carnivora pun begitu. Ternyata manusia di kelompok Omnivora (pemakan segala), akankah ini meingindikasikan manusia itu rakus ? Seakan manusia malah lebih rakus dari pada hewan. Sampai detik ini belum ada hewan pemakan api, tapi manusia sudah mampu memakan api (baca = merokok). Sepertinya perlu istilah baru untuk mahluk pemakan api ini. Jika kita berasal dari desa tentu kita tahu hewan yang dikenal bajing. Umum dikenal masyarakat desa bahwa bajing itu binatang yang rakus, tapi serakus-rakusnya bajing paling hanya kelapa yang dimakan. Tapi bajingan, bukan hanya kelapa, bahkan beras, uang, aspal, batu, gunung, kabel listrik, kayu jati pun dimakan. Karena kerakusan bajingan gunung bisa habis, dan hutan jadi gundul yang kemudian berakibat kerusakan, banjir maupun longsor.
Sifat kedua yang membedakan manusia dengan binatang adalah rasa malu. Bahkan Rosul SAW menegaskan ”malu itu sebagian dari iman”. Sapi tidak malu tidak berbaju dan kelihatan aurotnya. Harusnya manusia malu jika aurotnya terlihat, namun faktanya justru aurot manusia diumbar bahkan bangga dipamerkan. Itu kan sama dengan binatang. Ayam jantan mengejar ayam betina lalu melampiaskan syahwatnya tanpa ada komitmen (pernikahan) bahkan dilakukan di halaman sekolah tatkala upacara bendera sedang berlangsung, banyak manusia berbaris menyaksikannya si ayam enjoy saja. Hari ini perselingkuhan terjadi, remaja kita tanpa risih berciuman di tempat umum, bahkan berhubungan intim di semak-semak, ini kan lebih dari hewan. Data yang lebih mengerikan 62 % siswa/siswi SMP sudah pernah berhubungan seksual. Jika ayam melakukannya, itu hal yang wajar walau tanpa komitmen pernikahan ataupun ditempat umum, tapi bagi manusia ? Manusia memang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, tapi bukan berarti rakus. Manusia juga punya syahwat yang harus disalurkan, tapi bukan berarti tanpa kontrol. Disinilah peran agama mengaturnya, dan spirit Idul Adha ini adalah simbol kemerdekaan manusia dari sifat kebinatangan. Menyembelih binatang dalam Idul Qurban ini berarti menyembelih nafsu/sifat-sifat kebinatangan agar mengembalikan alam nasut (kemanusiaan) sebagai insan kamil bahkan lebih mendekatkan diri ke alam Lahut (dimensi ketuhanan yang suci yang menjadi sifat dasar ruh manusia).
Hikmah ke-2 dari Idul Adha adalah bulan yang menyiratkan Jihad (kesungguhan). Ismail yang begitu membahagiakan Ibrahim karena sekian tahun diidamkan beserta istri ke-2 nya harus ditinggalkannya di padang tandus yang tidak berpenghuni bahkan tak ada air untuk menunjang kehidupan. Untuk apa itu jika bukan karena ingin bersungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah, ingin sungguh-sungguh menjadi hamba Allah yang taat dan mendekatkan pada-Nya. Ribuan jamaah haji dari Indonesia yang konon harus mengeluarkan biaya 30-35 juta, sebulan meninggalkan keluarga, bahkan kepanasan dan berdesak-desakan di Mekkah, buat apa ? Niat dan kesungguhan untuk beribadah, mendekatkan diri pada Tuhan itulah yang melandasinya. Kita bukanlah kaum materialisme pemuja Karl Marx yang melakukan sesuatu hanya atas dasar materi. Kita juga bukan kaum behaviorisme pemuja Ivan Pavlov yang melakukan sesuatu atas dasar adanya stimulus dan respon. Kita adalah umat islam penganut ajaran yang disampaikan Muhammad SAW yang melakukan sesuatu atas dasar kepentingan baik dunia-maupun akhirat. Kesungguhan itulah yang memuliakan kita dari penganut apapun karena mampu melihat yang fisik dan meyakini yang metafisik. Justru dengan keyakinan terhadap yang metafisik (iman), menjadikan kehidupan ini lebih berarti.
Makna ke-3 dari Idul Adha berarti bulan persamaan manusia. Semua yang berhaji berpakaian yang sama dan berfokus pada yang sama (menuju dan hanya untuk Allah). Sebenarnya Idul Adha mengingatkan kita bahwa semua manusia itu sama, dilahirkan telanjang mati juga telanjang, hanya diselimuti kain kafan. Iman dan taqwa manusia lah yang membedakan di hadapan Allah. Gelar yang berderet, segala jabatan dan pangkat yang melekat semua itu akan tanggal di hadapan Tuhan. Jadi meminjam terminologinya Muhammad Iqbal, Idul Adha ini berfungsi untuk memanusiakan kembai manusia itu. Ya Allah ya Robi, terimalah ibadah kami, terimalah qurban kami dan terimalah haji kami.

• Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana STAIN Jember, Dai dan Perawat-Akupunturis, sekretaris majelis tabligh PCM Sumbersari, penulis buku “Panduan Lengkap seks Islami ditinjau dari Segi Al-Qur’an, hadis dan Medis”, dan dosen bantu di FIKES UNMUH Jember.

0 komentar:

Poskan Komentar